Kamis, 15 Agustus 2013

Dalam kesempatan berbahagia ini, saya selaku pengasuh, akan mengijahkan sebuah keilmuan untuk bisa bersahabat dengan seorang khodam berjenis kelamin perempuan dari golongan muslim.
Untuk bisa bersahabat dengan khodam perempuan dari golongan muslim ini, tidak perlu melakukan puasa atau pun melakukan tirakat yang memberatkan. Kunci Amalan Ilmu ini hanya cukup didawamkan setiap hari, dengan tawakal, istiqhamah dan yakin akan kuasa Allah SWT.
Khodam ini  mendampingi Anda bukan untuk dipintai atau disuruh untuk melakukah hal yang dilarang oleh Agama. Tetapi khodam yang bisa menampakkan wujudnya ini,  akan membantu Anda untuk mempertebal keimanan, membimbing Anda kejalan yang benar, dan akan membantu anda disaat Anda dalam kesulitan.
Tata cara laku riyadohnya antara lain:
-Bersihkan Hadast Kecil dan Hadast  Besar, dengan melakukan mandi junub (Mandi Wajib).
-Lakukan Riyadoh ini, saat sholat shubuh dan maghrib, ataupun sholat hajat, dengan cara :
1.Tawasul dengan menghadiahkan Al-Fatihah kepada Nabi Muhammad SAW, Syekh Abdul Qadir Al-Jaylani, dan Kaum Muslimin dan Muslimat.
2. Lalu baca:
-Istighfar 100x.
-Surat Al-Waqiah 1x.

-Sholawat Nabi 100x.

-Surat Al-Fatihah 3x

-Surat Al-Ikhlas 3x

-Surat An-Nas 3x

-Ayat Kursyi 11x

-Al-Fatihah 1x.

Kesaksian Nyata:
Kisah nyata ini dialami oleh salah seorang Akhwan yang sering mengamalkan kunci amalan di atas bernama Pendi. Pada suatu ketika, pria yang bekerja sebagai guru Sekolah Dasar (SD) ini, ketiduran hingga lupa mengerjakan kewajiban sholat lima waktunya. Antara sadar tidak sadar, didalam mimpinya ia didatangi oleh seorang perempuan memakai pakaian berwarna merah, yang membangunkannya agar ia segera melaksanakan ibadath sholat. Spontan Pendi terperanjat dari tidurnya. Suara wanita di mimpinya tersebut terdengar jelas di telinganya. Segera Kemudian ia pun segera berwudlu, untuk melakukan sholat.
Banyak kesaksian aneh dan manfaat lainnya dari keilmuan ini. Semoga keilmuan ini bermanfaat, dan bisa menambah keimanan kita sebagai seorang Muslimin/Muslimat.

Senin, 18 Maret 2013

Sufi Jawa : Mencari Sang Maha Ghoib

- "GUSTI ALLOH, Panjenengan panggenanipun dhateng pundi?
+ "AKU ono ning teleging ati"
- "GUSTI ALLOH. Kulo sampun nyusul Panjenengan dumugi dhateng teleging ati.

Panjenengan kok mboten wonten. Panjenengan dhateng pundi?

+ "Kowe ora bakal biso nggoleki AKU.
AKU ono ning teleging urip.
Kowe bisa ketemu kelawan AKU yen wis titi mongsone"


Terjemahan:

- "GUSTI ALLOH, dimanakah ENGKAU?
+ "AKU ada di dasar hati (hati sanubari)"
- "GUSTI ALLOH. Saya sudah menyusul ENGKAU di dasar hati.

ENGKAU kok tidak ada. Dimanakah ENGKAU?

+ "Kamu tidak bakal bisa mencari AKU.
AKU ada di dasar hidup.
Kamu bisa ketemu AKU jika sudah saatnya"

Gambaran dialog di atas menggambarkan betapa sulit dan berlikunya untuk bisa bertemu

dengan Sang Hyang Urip atau GUSTI ALLOH.
Kita tidak akan bisa bertemu, apalagi bersatu dengan GUSTI ALLOH jika belum saatnya.
Namun, dari dialog itu kita bisa tahu bahwa ALLOH itu dekat.
Seperti yang dijelaskan GUSTI ALLOH sendiri dalam Al'Quran
"AKU tidak jauh dari urat lehermu sendiri."

Namun orang Jawa memiliki falsafah tersendiri agar tidak putus asa untuk bisa bertemu

Sang Kholiq.
Falsafah tersebut berbunyi,"Sopo sing temen bakal tinemu."
Yang artinya, "Siapa yang benar-benar mencari, bakal menemukannya".
Falsafah tersebut sangat besar artinya bagi para pendaki spiritual.
Setidaknya, kita pasti bisa bertemu dengan GUSTI ALLOH
di alam kematian saat kita hidup di dunia ini.

Lho hidup di dunia ini kok disebut alam kematian? Karena orang hidup di dunia itu

hakekatnya adalah mati, dan orang yang sudah mati itu hakekatnya hidup.
Alasannya, kita hidup di dunia ini selalu diperalat oleh kulit, daging, perut, otak dan lain-lainnya.
Oleh karena itu, saat kita hidup di dunia ini pasti membutuhkan makanan untuk kita makan.
Sarana untuk bisa mendapatkan makanan adalah dengan bekerja mencari duit.

Nah, kita makan itu sebetulnya hanyalah untuk menunda kematian.

Lantaran diperalat oleh indera, kulit, daging, perut, otak dan lainnya,
maka kita ini disebut mati.
Tetapi ketika seseorang itu mati, badan yang bersifat jasad ini ditinggalkan.
Yang hidup hanyalah ruh, Ruh tidak pernah butuh makan, tidur, apalagi butuh duit.
Ruh itu hanya butuh bertemu dengan si Pemilik Ruh.

"Belajarlah mati sebelum kematian itu datang".

Artinya, ketika kita hidup di dunia ini hendaklah kita belajar mematikan hawa nafsu
dan membersihkan segala hal yang bersifat mengotori hati.
Tujuannya semata-mata hanya untuk bertemu dengan GUSTI ALLOH.

Mengapa kita mesti belajar mati? Belajar mati sangatlah penting.

Agar nanti ketika kita mati tidak salah arah dan salah langkah.
Lho...bukankah orang mati itu ibarat tidur menunggu pengadilan dari Hyang Maha Agung?
Oh...tidak. Orang mati itu justru memulai kembali perjalanan menuju ke Hyang Maha Kuasa.
Orang Jawa mengatakan dalam kata-kata bijaksananya,
"Urip iku ibarat wong mampir ngombe (Hidup itu seperti orang yang mampir minum)".
Kalau diibaratkan secara detil, orang hidup di dunia ini sebenarnya mirip seorang musafir
yang berjalan, lalu kelelahan, istirahat dan minum di bawah pohon.
Ketika rasa letih dan lelah itu sudah sirna, si musafir itupun harus kembali
melanjutkan perjalanannya. Kemana? Tentu saja ke tempat tujuannya.

GUSTI ALLOH itu dekat, jika sang musafir senantiasa mengingat-ingat

tentang GUSTI ALLOH.
Tetapi sebaliknya, GUSTI ALLOH itu jauh ketika sang musafir tersebut
lebih banyak berpikir tentang hal-hal lain yang bersifat duniawi selain GUSTI ALLOH.

Pertanyaannya, bagaimana untuk bisa bertemu dengan ALLOH?

Ibarat kita hendak bertemu sang kekasih hati, gambaran wajah sang kekasih hati
sudah terlukis dalam benak kita meski lama tak bertemu dan di lokasi yang jauh.
"Jauh di mata, dekat di hati".
Oleh karena itu, pertama, GUSTI ALLOH harus selalu terlukis dalam benak kita.
Artinya, kita harus senantiasa eling.

Kedua, GUSTI ALLOH itu bersifat Ghoib. "Mustahil bagi kita yang nyata ini

bertemu dengan yang Ghoib," begitu kata orang rasional.
Tapi pendapat itu tidak berlaku bagi para pendaki spiritual.
Seseorang bisa bertemu dengan Sang GHOIB dengan menggunakan satu piranti khusus.
Apakah itu? Piranti itu adalah mata batin.
Sebab GUSTI ALLOH tidak bisa dipandang dengan mata telanjang.

Dari kedua cara tersebut, maka kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kedua cara tersebut

lebih mengandalkan pada piranti yang lebih halus lagi untuk bisa bertemu
dengan GUSTI ALLOH yaitu dengan RASA.
Jika RASA itu sudah terbiasa diasah, maka akan menjadi tajam seperti mata pedang.
Cobalah untuk berlatih mengasah RASA dengan cara belajar mati.
kidung rumekso ing wengi....sunan kalijaga
----------------------------------------------------
Ana kidung rumekso ing wengi
Teguh hayu luputa ing lara
luputa bilahi kabeh
jim setan datan purun
paneluhan tan ana wani
niwah panggawe ala
gunaning wong luput
geni atemahan tirta
maling adoh tan ana ngarah ing mami
guna duduk pan sirno

Sakehing lara pan samya bali
Sakeh ngama pan sami mirunda
Welas asih pandulune
Sakehing braja luput
Kadi kapuk tibaning wesi
Sakehing wisa tawa
Sato galak tutut
Kayu aeng lemah sangar
Songing landhak guwaning
Wong lemah miring
Myang pakiponing merak

Pagupakaning warak sakalir
Nadyan arca myang segara asat
Temahan rahayu kabeh
Apan sarira ayu
Ingideran kang widadari
Rineksa malaekat
Lan sagung pra rasul
Pinayungan ing Hyang Suksma
Ati Adam utekku baginda Esis
Pangucapku ya Musa

Napasku nabi Ngisa linuwih
Nabi Yakup pamiryarsaningwang
Dawud suwaraku mangke
Nabi brahim nyawaku
Nabi Sleman kasekten mami
Nabi Yusuf rupeng wang
Edris ing rambutku
Baginda Ngali kuliting wang
Abubakar getih daging Ngumar singgih
Balung baginda ngusman

Sumsumingsun Patimah linuwih
Siti aminah bayuning angga
Ayup ing ususku mangke
Nabi Nuh ing jejantung
Nabi Yunus ing otot mami
Netraku ya Muhamad
Pamuluku Rasul
Pinayungan Adam Kawa
Sampun pepak sakathahe para nabi
Dadya sarira tunggal

Terjemahan dalam bahasa indonesia:

Ada kidung rumekso ing wengi. Yang menjadikan kuat selamat terbebas
dari semua penyakit. Terbebas dari segala petaka. Jin dan setanpun
tidak mau. Segala jenis sihir tidak berani. Apalagi perbuatan jahat.
guna-guna tersingkir. Api menjadi air. Pencuripun menjauh dariku.
Segala bahaya akan lenyap.

Semua penyakit pulang ketempat asalnya. Semua hama menyingkir dengan pandangan kasih. Semua senjata tidak mengena. Bagaikan kapuk jatuh dibesi. Segenap racun menjadi tawar. Binatang buas menjadi jinak. Pohon ajaib, tanah angker, lubang landak, gua orang, tanah miring dan sarang merak.

Kandangnya semua badak. Meski batu dan laut mengering. Pada akhirnya semua slamat. Sebab badannya selamat dikelilingi oleh bidadari, yang dijaga oleh malaikat, dan semua rasul dalam lindungan Tuhan. Hatiku Adam dan otakku nabi Sis. Ucapanku adalah nabi Musa.

Nafasku nabi Isa yang teramat mulia. Nabi Yakup pendenganranku. Nabi Daud menjadi suaraku. Nabi Ibrahim sebagai nyawaku. Nabi sulaiman
menjadi kesaktianku. Nabi Yusuf menjadi rupaku. Nabi Idris menjadi
rupaku. Ali sebagai kulitku. Abubakar darahku dan Umar dagingku.
Sedangkan Usman sebagai tulangku.

Sumsumku adalah Fatimah yang amat mulia. Siti fatimah sebagai
kekuatan badanku. Nanti nabi Ayub ada didalam ususku. Nabi Nuh
didalam jantungku. Nabi Yunus didalam otakku. Mataku ialah Nabi
Muhamad. Air mukaku rasul dalam lindungan Adam dan Hawa. Maka
lengkaplah semua rasul, yang menjadi satu badan.

Sabtu, 08 Desember 2012

Al kisah setelah kehilangan keledainya, Mulla lalu mengangkat kedua tangannya, ia bersyukur kepada Tuhan. “Tuhan aku bersyukur kepada-Mu, aku telah kehilangan keledaiku.”
Seorang yang melihat dan mendengar doa Mulla bertanya, “Kamu kehilangan keledaimu, dan kamu bersyukur kepada Tuhan?”
“Aku bersyukur kepada-Nya atas kebijakan-Nya yang mentakdirkan bahwa aku tidak menunggangi keledai waktu itu. Kalau tidak, sekarang aku tentu hilang juga.”
Anda boleh tersenyum ataupun tidak, melihat keluguan Mulla ini. Keluguan Mulla  adalah ciri lain dari keikhlasannya. Tidak hanya Mulla atau guru sufi lainnya tapi seperti begitulah cara kaum sufi menempatkan dirinya sebagai makhluk Tuhan.
Dalam sebuah kesempatan kajian  tasawuf positif seorang teman berucap sembari bergurau  “Hanya ada satu hal yang membedakan antara masyarakat manusia dengan komunitas primata – kera atau gorilla – ”, Apa itu ? humor. Humor adalah ciri khas yang ada pada masyarakat manusia. Di belahan dunia ini kita bisa cari dimana atau apa ada yang bisa membuktikan bahwa pada primata (kelompok kera atau gorilla) ada humor, yang kita saksikan hanyalah keseriusan. Masyarakat gorilla adalah masyarakat tanpa canda dan tawa. Kalau anda masih bisa tertawa anda masih manusia? Bagaimana kalau anda yang sering ditertawakan ? Nah, lanjut kawan saya , sama juga yang membedakan masyarakat awam dengan kaum sufi – kalau sufi dianggap sebagai kelompok minoritas ditengah mayoritas Muslim awam -  juga adanya humor, yakni humor sufi.
Melalui humor kaum sufi bercerita tentang kisah-kisah yang tidak saja bisa mentertawakan diri sendiri tapi malah mampu mentertawakan seluruh kehidupan ini.
Buat kaum sufi kehidupan ini adalah sejenis senda gurau, gurauan yang tidak saja memberitahukan akan makna-makna kegenitan duniawi tapi juga berisi kejenakaan dan kesadaran diri yang ingin menyatu dengan-Nya.
Cerita sufi kadang-kadang menggelitik bahkan cenderung “nakal” tetapi kisah-kisahnya mengajarkan banyak kearifan. Kearifan memang tidak harus disampaikan dengan kening berkerut, tapi bisa juga disampaikan melalui cerita jenaka. Kejenakaan humor sufi tidak hanya dipenuhi dengan teori-teori kearifan (hikmah) teoritis, tetapi humor sufi lebih banyak mengajarkan kearifan praktis yang muncul pada sebagian besar kisah-kisah  sufi yang amat masyhur.

Minggu, 26 Februari 2012

Anekdot Sufi Jawa

Cerita tentang Kiai Sabar
Cerita Kiai Badrun Di daerah Jawa Timur setiap bulan kesembilan pada bulan purnama bertemulah para Ulama Khos mengadakan musyawarah, dalam musyawarah tersebut di ketahui bahwa di suatu daerah hiduplah seorang Ulama Sir -ulama besar tetapi menyembunyikan diri- informasi yang di ketahui hanya ulama besar tersebut bernama Kiai Almukarom Sabaruddin tinggal di tepi Gunung yang berapi di pulau Jawa, tidak ada keterangan lain Gunung Berapi yang mana karena gunung berapi begitu banyak di tanah Jawa ini.
Akhirnya para kiai Khos memutuskan untuk membagi tiga kelompok untuk mencari satu kelompok untuk wilayah Jawa bagian timur, kelompok kedua untuk wilayah Jawa Bagian Barat dan kelompok ketiga untuk wilajah Jawa bagian tengah. Dan sepakat satu tahun kemuadian pada bulan kesempilan dan tepat ketika purnama tiba kumpul kembali di tempat yang sama.
Setelah satu tahun mereka berkumpul kembali ternyata mereka belum menemukan Ulama Sir yang dimaksud, sedikit petunjukpun tidak, tapi mereka tambah yakin semakin sulit di cari semakin di yakini bahwa ulama Sir itu memang ada dan linuwih.akhirnya mereka memutuskan untuk sholat istiqoroh minta petunjuk kepada Gusti. Setelah semua bersama melakukan sholat ada sedikit petunjuk tentang lokasi yang di mana Ulama Sir itu berada , petunjuknya adalah di daerah Jawa bagian Tengah di seputar gunung berapi tetapi sudah tidak aktif dan rumahnya di pinggir rumpun bamboo.
Akhirnya mereka pergi bersama mencari gunung tersebut, di jelajahilah semua gunung yang tidak aktif di Jawa bagian Tengah, dari gunung Sindoro, gunung Sumbing, Gunung Slamet, Gunung Lawu tetapi tidak ada petunjuk, dan tiba-tiba salah seorang dari mereka teringat tentang Gunung Tidar dan di putuskannyalah mendatangi daerah gunung tersebut. Di tanyailah orang-orang di sekitar gunung Tidar apakah ada Ulama besar yang bernama Kiai Almukarom Sabaruddin dengan ciri rumahnya di pinggir Rumpun Bambu. Tetapi semua orang mengatakan kalau di daerah Gunung Tidar tidak ada nama ulama seperti itu, paling ada yang mirip dengan itu tetapi setahu penduduk di sekitar tidaklah seoarang Ulama apalagi mempunyai pondok dan murid. Para Ulama Khos minta penjelasan lebih lanjut tentang orang yang agak mirip dengan yang mereka cari, namanya adalah mbah Sabar bukan Kiai Almukarom Sabaruddin, dan hanya seorang pengembala itik, bukan pemimpin pondok dan yang sama hanya rumahnya memang sama-sama di tepi rumpun bamboo.
Di kunjungi rumah tersebut dan bertemulah dengan lelaki tua yang kurus dengan caping lebarnya sedang mengembalakan itiknya. Rombongan tersebut mengutarakan kedatangannya.tetapi jawab orang tersebut,” Maaf ya tuan-tuan mungkin anda salah alamat itu memang rumah saya tuan, tapi saya hanyalah seorang gembala itik bukan ulama, coba cari yang lain saja, tuan salah alamat barang kali…” demikian jawaban, tapi tetapi para rombongan ulama Khos tetap yakin bahwa orang ini adalah orangnya. Akhirnya Pengembala itik itu menyilahkan masuk kerumahnya.
“Tuan-tuan bila tuan –tuan ingin mengetahui hakekat ilmu sejati pergilah kemana saja yang bisa kau temukan tempat tempat paling sepi….”Demikian wejangan pertama, kemudian tanpa panjang lebar para ulama Khos tersebut di bagi tiga kelompok menyebar. Kelompok pertama yakin di tepi pantai adalah tempat yang paling sepi, kelompok kedua pergi ke goa di lereng gunung dan kelompok ketiga pergi ke tengah hutan.
Setelah mereka sampai mereka berkumpul dan menyeritakan pengalaman dan argumentasi masing-masing.Tetapi sungguh terkejut bahwa semua argumentasinya di salahkan, “ dalam dunia hakekat seorang salik haruslah berpegangan pada tiga ujaran yaitu ojo rumongso biso, ojo rumangso weruh lan ojo rumongso ngerti….tempat yang sepi di dunia ini tidak ada kecuali hanya ada dalam diri tuan-tuan dan itu pun hanya bisa kalau tuan-tuan bisa berhenti, meneng….. “
Demikian ujarnya, ditengah suasana ramah temah tersebut tiba tiba dari belakang ruang tamu terdengar seorang wanita membentak mbah Sabar,” Bapake! Malah hanya duduk-duduk ngobrol ngoyo woro tidak ada gunanya …..ayo cepat segare anggon Bebekmu, itu sudah pada teriak teriak kelaparan, aku kebrebegen ki…….” Para ulama Khos terkejut bukan kepalang tidak sopan perempuan itu pikirnya. Dan di tanyakanlah siapakah gerangan perempuan itu pada mbah Sabar tersebut, “ Dialah guru saya………”.
“Sekaranglah pulanglah tuan-tuan, anda sudah ketemu yang anda cari hanya biginilah gerangan yang anda sebut Kiai Almukarom Sabaruddin”. Mereka sungkem cium tangan dan pamit.
WEJANGAN SUNAN KALIJAGA

Wejangan Kanjeng Sunan Kalijogo marang Kyai Ageng Bayat Semarang (Sekar Macapat – kanthi Tembang Dandang Gulo).

Urip iku neng ndonya tan lami.
Umpamane jebeng menyang pasar.
Tan langgeng neng pasar bae.
Tan wurung nuli mantuk.
Mring wismane sangkane uni.
Ing mengko aja samar.
Sangkan paranipun.
Ing mengko podo weruha.
Yen asale sangkan paran duk ing nguni.
Aja nganti kesasar.


Yen kongsiho sasar jeroning pati.
Dadya tiwas uripe kesasar.
Tanpa pencokan sukmane.
Separan-paran nglangut.
Kadya mega katut ing angin.
Wekasan dadi udan.
Mulih marang banyu.
Dadi bali muting wadag.
Ing wajibe sukma tan kena ing pati
Langgeng donya akherat.



MANUNGGALING KAWULO LAN GUSTI


Berikut sebagian dari artikel Kejawen yang berjudul : Menggapai Wahyu Dyatmiko karya Ki Sondang Mandali untuk menambah pengetahuan kita.

Dalam ajaran Kejawen ada istilah “Manunggaling Kawula Gusti”. Hal ini sering diartikan bahwa menyatunya manusia (kawula) dengan Tuhan (Gusti). Anggapan bahwa Gusti sebagai personifikasi Tuhan kurang tepat. Gusti (Pangeran, Ingsun) yang dimaksud adalah personifikasi dari Dzat Urip (Kesejatian Hidup), derivate (emanasi, pancaran, tajali) Tuhan.

Hal ini bisa dilihat dari “Wirid 8 Pangkat Kejawen”:

Wejangan panetepan santosaning pangandel, yaiku bubuka-ning kawruh manunggaling kawula-gusti sing amangsit pikukuh anggone bisa angandel (yakin) menawa urip pribadi kayektene rinasuk dening dzate Pangeran (Dzat Urip, Sejating Urip). Pangeran iku ya jumenenge urip kita pribadi sing sejati. Roroning atunggal, sing sinebut ya sing anebut. Dene pangertene utusan iku cahya kita pribadi, karana cahya kita iku dadi panengeraning Pageran. Dununge mangkene : “Sayekti temen kabeh tumeka marang sira utusaning Pangeran metu saka awakira, mungguh utusan iku nyembadani barang saciptanira, yen angandel yekti antuk sih pangapuraning Pangeran”. Menawa bisa nampa pituduh sing mangkene diarah awas ing panggalih, ya urip kita pribadi iki jumenenging nugraha lan kanugrahan. Nugraha iku gusti, kanugrahan iku kawula. Tunggaal tanpa wangenan ana ing badan kita pribadi.

Terjemahannya:

Ajaran pemantapan keyakinan, yaitu pembukanya kawruh (ilmu) “Manunggaling Kawula Gusti” yang memberikan wangsit (petunjuk) keteguhan untuk bisa yakin bahwa hidup kita pribadi sesungguhnya dirasuki Dzatnya Pangeran Pangeran (Dzat Urip, Sejatining Urip). Pangeran itu bertahtanya pada hidup kita yang sejati. Dwitunggal (roroning atunggal) yang disebut dan yang menyebut. Sedangkan pengertian utusan itu cahaya hidup kita pribadi, karena cahaya hidup kita itu menjadi pertanda adanya Pangeran. Maksudnya : “Sesungguhnya nyata semua datang kepada kamu utusan Pangeran (memancar) keluar dari dirimu sendiri. Sebenarnya utusan itu mencukupi semua yang kamu inginkan, kalau percaya pasti mendapatkan pengampunan dari Pangeran”. Bila bisa menerima petunjuk yang seperti ini supaya awas dan hati-hati, ya hidup kita ini bertahtanya nugraha dan anugrah. Nugraha itu gusti (tuan) sedang anugrah itu kawula (abdi). Bersatu tanpa batas pemisah dalam badan kita sendiri.


Diposting oleh MASHDAN
Wejangan Kanjeng Sunan Kalijogo marang Kyai Ageng Bayat Semarang (Sekar Macapat – kanthi Tembang Dandang Gulo).

Urip iku neng ndonya tan lami.
Umpamane jebeng menyang pasar.
Tan langgeng neng pasar bae.
Tan wurung nuli mantuk.
Mring wismane sangkane uni.
Ing mengko aja samar.
Sangkan paranipun.
Ing mengko podo weruha.
Yen asale sangkan paran duk ing nguni.
Aja nganti kesasar.


Yen kongsiho sasar jeroning pati.
Dadya tiwas uripe kesasar.
Tanpa pencokan sukmane.
Separan-paran nglangut.
Kadya mega katut ing angin.
Wekasan dadi udan.
Mulih marang banyu.
Dadi bali muting wadag.
Ing wajibe sukma tan kena ing pati
Langgeng donya akherat.



MANUNGGALING KAWULO LAN GUSTI


Berikut sebagian dari artikel Kejawen yang berjudul : Menggapai Wahyu Dyatmiko karya Ki Sondang Mandali untuk menambah pengetahuan kita.

Dalam ajaran Kejawen ada istilah “Manunggaling Kawula Gusti”. Hal ini sering diartikan bahwa menyatunya manusia (kawula) dengan Tuhan (Gusti). Anggapan bahwa Gusti sebagai personifikasi Tuhan kurang tepat. Gusti (Pangeran, Ingsun) yang dimaksud adalah personifikasi dari Dzat Urip (Kesejatian Hidup), derivate (emanasi, pancaran, tajali) Tuhan.

Hal ini bisa dilihat dari “Wirid 8 Pangkat Kejawen”:

Wejangan panetepan santosaning pangandel, yaiku bubuka-ning kawruh manunggaling kawula-gusti sing amangsit pikukuh anggone bisa angandel (yakin) menawa urip pribadi kayektene rinasuk dening dzate Pangeran (Dzat Urip, Sejating Urip). Pangeran iku ya jumenenge urip kita pribadi sing sejati. Roroning atunggal, sing sinebut ya sing anebut. Dene pangertene utusan iku cahya kita pribadi, karana cahya kita iku dadi panengeraning Pageran. Dununge mangkene : “Sayekti temen kabeh tumeka marang sira utusaning Pangeran metu saka awakira, mungguh utusan iku nyembadani barang saciptanira, yen angandel yekti antuk sih pangapuraning Pangeran”. Menawa bisa nampa pituduh sing mangkene diarah awas ing panggalih, ya urip kita pribadi iki jumenenging nugraha lan kanugrahan. Nugraha iku gusti, kanugrahan iku kawula. Tunggaal tanpa wangenan ana ing badan kita pribadi.

Terjemahannya:

Ajaran pemantapan keyakinan, yaitu pembukanya kawruh (ilmu) “Manunggaling Kawula Gusti” yang memberikan wangsit (petunjuk) keteguhan untuk bisa yakin bahwa hidup kita pribadi sesungguhnya dirasuki Dzatnya Pangeran Pangeran (Dzat Urip, Sejatining Urip). Pangeran itu bertahtanya pada hidup kita yang sejati. Dwitunggal (roroning atunggal) yang disebut dan yang menyebut. Sedangkan pengertian utusan itu cahaya hidup kita pribadi, karena cahaya hidup kita itu menjadi pertanda adanya Pangeran. Maksudnya : “Sesungguhnya nyata semua datang kepada kamu utusan Pangeran (memancar) keluar dari dirimu sendiri. Sebenarnya utusan itu mencukupi semua yang kamu inginkan, kalau percaya pasti mendapatkan pengampunan dari Pangeran”. Bila bisa menerima petunjuk yang seperti ini supaya awas dan hati-hati, ya hidup kita ini bertahtanya nugraha dan anugrah. Nugraha itu gusti (tuan) sedang anugrah itu kawula (abdi). Bersatu tanpa batas pemisah dalam badan kita sendiri.


Diposting oleh MASHDAN